Gambar

dinas

10 Mar

dinas

Gambar

seminar

10 Mar

seminar

MULTIKULTURALISME SEBAGAI LANDASAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN

16 Jan

Indonesia merupakan negara besar dan sangat plural, baik karakteristik wilayah maupun penduduk. Pluralitas tersebut tidak hanya secara geografis (kewilayahan), tetapi juga sosiologis (kemasyarakatan) dan teologis (kepercayaan) yang menyebabkan perbedaan cara hidup sehingga menjadi kultur (budaya) yang berbeda, dengan ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultur. Hal ini dikatakan oleh Masdar Hilmy seorang dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, sebagai pedang “bermata ganda” karena disatu sisi ia merupakan modalitas yang bisa menghasilkan energi positif, disisi lain bisa menjadi ledakan destruktif yang menghancurkan struktur dan pilar-pilar kebangsaan manakala keanekaragaman itu tidak bisa dikelola dengan baik.

Lebih lanjut Masdar Hilmy mengatakan bahwa paradigma multikulturalisme tidak saja mengandaikan hadirnya keanekaragaman elemen sosial budaya, tetapi juga proses peleburan antara elemen yang satu dengan elemen lain kedalam sebuah wilayah kebersamaan yang bersifat saling memperkuat. Proses peleburan ini bukan dalam pengertian penciptaan identitas tunggal melalui penyeragaman yang represif, tetapi kerelaan saling melebur tanpa harus menghilangkan identitas-identitas lokal.

Salah satu faktor kegagalan rezim Orde Baru dalam mengelola multikulturalisme adalah karena selain menggunakan cara-cara represif, mereka juga amat terobsesi melakukan penyatuan dan penyeragaman sosial budaya melalui penipuan-penipun tafsir idiologis. Pengekangan munculnya variasi praksis disegala lini kehidupan menjadikan bangsa yang jauh dari kreatifitas bernalar dan kematangan pola pikir. Pengekangan-pengekangan ini juga terjadi pada dunia pendidikan yang notabene merupakan agen pembaharu suatu bangsa. Sekolah lebih merupakan pewarisan budaya, dan kurang memberikan ruang dialektika untuk mengkritisi budaya tersebut, dengan demikian kreatifitas yang  berdaya temu sangat minim terjadi. Budaya dan sejarah yang diwariskan sudah diatur sedemikian rupa lewat buku-buku terbitan penguasa sehingga hanya menguntungkan pihak penguasa dan mengorbankan pihak-pihak yang idealis pada bangsa ini. Kampus-kampus tidak merdeka dalam menelorkan ide dan gagasan, kebranian kritisnya dibungkam oleh gerakan militer yang represif. Para intelektual dipaksa berbicara satu dan sering diluar hati nurani dan kebenaran ilmiah yang metodologis, dan diarahkan hanya untuk membenarkan langkah penguasa. Data-data statistik dimanipulasi untuk menghibur rakyat, serta bahasa tafsir dari data direkayasa sehingga negara kita terkesan berhasil. Informasi internasional yang positif sebagai pembanding tidak diperkenankan masuk dan informasi kegagalan langkah penguasa didalam negeri juga disensor.

Hal di atas sangat ditentukan dengan diberlakukannya sistem negara sentralistik, termasuk pada bidang pendidikan. Paradigma pendidikan sentralistik yang berbasis penyeragaman identitas sosial budaya ala Orde Baru terbukti tidak mampu menyangga multikulturalitas kebangsaan yang unik di Indonesia. Sehingga pada saatnya, yakni tahun 1998 meledaklah “magma kemarahan rakyat”  yang tersalur dari detakan langkah sang Mahasiswa. Pada saat itu Indonesia mati dari ketertindasan pikir dan terlahir menjadi manusia yang “merdeka kedua-kalinya”. Merdeka dari penjajah asing ditahun 1945 dan merdeka dari kediktatoran dan pembungkaman rezim Orde Baru.

Konflik horizontal yang disebabkan karena ledakan kebebasan rakyat yang tidak terkontrol sehingga tumbangnya rezim diktator juga disertai berbagai gejolak sosial. Masyarakat yang dibutakan dari wacara perbedaan terpaksa berhadapan dengan realita multikulturalisme, sehingga konflik antaretnik tidak dapat dielakkan lagi. Bukti nyata yakni meletusnya tragedi Sampit di Kalimantan. Konflik juga terjadi antara agama yakni di Maluku dan Poso. Puncak ketidak puasan rakyat meledak dengan semakin bangkitnya  gerakan Sparatis di Aceh dengan Gerakan Aceh Merdekanya dan berkibarnya Bendera Gerakan Papua Merdeka di Irian Jaya.

Menurut Masdar Hilmy harus dilakukan dua pembenahan terhadap mispersepsi tentang multikulturalisme, sehingga multikulturalisme memang benar-benar “cantik” dalam sosiologi kebangsaan untuk itu sangat perlu dilestarikan. Pembenahan pertama menyangkut basis epistemologis multikulturalisme yang hingga kini belum banyak di pahami khalayak secara proporsional. Harus di akui, pemahaman masyarakat tentang multikulturalisme masih sebatas pada keanekaragaman kondisi sosial budaya yang dimiliki bangsa kita. Padahal, paradigma multikulturalisme meniscayakan pemahaman bahwa elemen-elemen sosial budaya bangsa harus bersifat inklusif, membuka diri terhadap elemen-elemen lain dari luar, dan berani berdialog satu sama lain. Masyarakat harus membiarkan elemen-elemen sosial budaya saling berdialog, bahkan “bertikai”, di tingkat epistemologis dalam dikursus yang fluid, melting, dan tidak represif. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang mampu memerankan dirinya sebatas sebagai “arbiter”, penengah bagi proses rekonsiliasi, ketika proses dialektika itu menemui titik jenuh. Untuk keperluan ini, masyarakat dituntut selalu meningkatkan “kecerdasan emosional” agar mereka memiliki sensitivitas, sensibilitas, apresiasi, simpati, dan empati terhadap kelompok lain. Kercerdasan dalam wilayah ini, harus disertai dengan kepekaan membaca kondisi real, baik secara historis, sosiologis maupun psikologis. Penilaian-penilain yang hanya sektoral cendrung tidak berimbang dan sangat menyesatkan, sehingga pemahaman secara epistemologis harus benar-benar proporsional.

Pembenahan yang kedua yakni pada basis teologis, tidak bisa di pungkiri, sistem teologi yang dikembangkan di lembaga pendidikan kita belum memungkinkan terjadinya pemahaman paradigma multikulturalisme yang proporsional akibat distorsi-distorsi.  Doktrin agama sering di jadikan pembenar bagi terjadinya konflik antaragama. Disini masih berkembang epistemologi “pahlawan agama” yakni orang yang berjuang atas panggilan agama. Namun kalau kita berpandangan bahwa agama hanya sebuah jalan kebenaran, dan tujuan kita adalah sama yakni kebebasan, maka kita tidak pernah akan mempertentangkan jalan kita masing-masing. Pemahaman sempit dan fenomena eksklusivisme masih amat kental mewarnai kurikulum pendidikan agama di sekolah yang dilakukan melalui “pencucian otak” anak didik secara sistematis. Hal inilah akan berpeluang memunculkan masyarakat-masyarakat garis keras konvensional, yang jauh dari manusia moderat yang demokratis.

Dialektika dan kajian mendalam tentang nilai-nilai agama yang ada harus dilakukan secara obyektif yang bermetodologi ilmiah. Penilaian yang dimuati kepentingan-kepentingan golongan akan membuat diskriminasi yang sangat berbahaya ditengah pluralitas agama yang ada. Politisasi negara terhadap agama atau agama mempolitisasi negara akan melahirkan embrio kehancuran sebagai bom waktu kehidupan. Menyikapi kajian epistemologis multikulturalisme dan kajian teologis, maka dalam upaya menjadikan multukulturalisme sebagai potensi positif untuk membangun negara, dunia pendidikan menempati posisi strategis. Pendidikan merupakan wahana penyatuan persepsi epistemologis, sehingga didapat depinisi yang konstruktif  serta pendidikan pula yang menyudahi distorsi-distorsi teologis.

Pengalaman masa lalu dengan sistem sentralisasi pendidikan yang represif  telah melahirkan manusia yang belum pintar secara intelektual juga lemah secara emosional dan belum kaya secara spiritual, apalagi ditambah pertimbangan geografis dan utamanya multikulturalisme Indonesia, maka harus dirumuskan sebuah sistem pendidikan yang lebih baik.

Dengan alasan tersebut diatas, maka paradigma desentralisasi pendidikan sangat tepat. Dengan desentralisasi pendidikan, maka 1) Telah terjawab kendala secara geografis dari bangsa kita karena dengan ini terjadi otonomi pendidikan ditingkat daerah dan sekolah sehingga pelaksanaan pendidikan akan mendekatkan kebijakan yang diambil dengan sekolah bersangkutan. 2) Masyarakat multikultur justru memperkaya obyek kajian yang perlu kita ulas dan perdebatkan sehingga menemukan akulturasi budaya yang kompleks, yang tetap menghormati karakteristik budaya didalamnya. Penghargaan terhadap perbedaan kultur terutama dari segi kebijakan sangat diharapkan sehingga tidak ada golongan yang terkorbankan atau mengorbankan serta tidak ada budaya yang  dipaksa untuk menjadi sama. 3) Penduduk Indonesia yang sangat besar akan termanfaatkan, karena bantuan baik berupa dana, sarana-prasarana,  maupun partisifasi aktif dalam merencanakan kebijakan atau melaksanakan pendidikan dalam bentuk pemberian informasi atau bahkan pemberian materi dari masyarakat. 4) Pemanfaatan kekayaan alam Indonesia, sebagai laboratorium alami, tempat peserta didik melakukan percobaan dan pengumpulan data secara gratis.

Dari kekuatan-kekuatan tersebut, yang harus kita jaga dan kembangkan, maka dengan desentralisasi pendidikan juga memberikan peluang, yakni : 1) Pendidikan akan menjadi sebuah sistem yang berjalan dengan sendirinya, tanpa menunggu instruksi dari atas. Kreatifitas akan mengalir secara alami dan tidak ada pendiktean hasil dari pendidikan. Prinsif “learning what to be learn” belajar apa yang dipelajari akan dengan otomatis bergeser ke pola “learning how to learn” belajar bagaimana belajar. Dengan demikian pendidikan benar-benar menjadi otonom. 2) Terwujud masyarakat yang menghargai perbedaan baik dalam pola pikir maupun pola tindak dan pola bicara, dari hal ini akan terjadi masyarakat berani berdebat ditingkat epistemologis dan selalu menjungjung tinggi pranata-pranata sosial serta hasil dari sebuah konsensus. Dari hal ini akan terlahir masyarakat yang demokratis. 3) Terjadi kompetisi yang sehat dari peserta didik yang diikuti oleh peningkatan kualitas penyelenggara pendidikan baik guru maupun tenaga administrasi. Hal ini terjadi karena setiap daerah memiliki tafsir yang berbeda atau cara yang berbeda dalam mewujudkan tujuan pendidikan sehingga struktur atau tugas-tugas penyelenggara pendidikan menjadi berbeda, disinilah memerlukan profesionalisme dan seni dalam mengatur. 4) Dari Segi anggaran akan terjadi efisiensi, karena anggaran dana langsung ke daerah sasaran atau sekolah tujuan, maka tidak akan terjadi penyinggahan dana disana-sini, serta pengelolaan anggaran akan lebih tepat sesuai dengan keperluan. 5) Dari segi output pendidikan, maka akan tercipta lulusan-lulusan yang memiliki kempetensi berimbang antara kognitif, afektif dan psikomotorik. Serta berimbang pula antara kemampuan umum dan kemampuan lokal, sehingga lulusan tidak buta akan potensi daerahnya masing-masing, tetapi juga tidak kalah dalam mencermati fenomena global. Otonomi pengelolaan pendidikan disuatu daerah akan mempertimbangkan potensi daerah yakni dengan dibangunnya sekolah-sekolah kejuruan yang memang benar-benar diperlukan oleh daerah tersebut. Dengan demikian akan terjadi kesesuaian antara sekolah sebagai penyedia sumber daya manusia dengan dunia kerja sebagai konsumen sumber daya manusia.

Dengan demikian desentralisasi sistem pendidikan menjadi pilihan tepat ditengah-tengah masyarakat multikultur. Keberhasilan pendidikan Indonesia dalam mengelola multikulturalisme adalah awal keberhasilan sebagai negara besar, yang pintar secara intelektual, cerdas secara emosional dan religius secara spiritual.

Wujudkan Investasi yang Berbasis Kerakyatan

10 Jan

Secara prinsif sebuah upaya pembangunan ekonomi yang dilakukan harus memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan dirasakan oleh sebagain besar masyarakatnya (baca mensejahterakan). Jikalau sebuah upaya pembangunan ekonomi hanyalah mensejahterakan segelintir orang dan merugikan sebagain besar masyarakat walaupun berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi maka upaya itu bukanlah upaya pembangunan ekonomi.

Investasi sebagai upaya pembangunan perekonomian, jikalau hanya menyuburkan dua tiga orang dan menjepit kepentingan masyarakat umum, maka investasi tersebut bukanlah bagian dari upaya pembangunan ekonomi. Sehingga investasi yang semacam itu harus kita tolak dengan setegas-tegasnya. Investasi yang terasing dari lingkaran budaya masyarakat dan meracuni kelestarian alam, atau secara sistematis akan mampu mengancam kebudayaan local masyarakat, maka sungguh tidak bijak merekomendasi bentuk-bentuk investasi seperti itu. Investasi seperti itu tidak lain dan tidak bukan merupakan manipestasi penjajahan.

Investasi yang kita bangun adalah investasi yang berorientasi pada kepentingan masyarakat secara umum atau paling tidak berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. Dan yang terpenting adalah tidak mengancam kebudayaan yang demikian luhur dari masyarakat local. Hal lain yang juga menjadi rambu bagi kepentingan investasi adalah terjaganya keseimbangan ekologi dan ekosistem alam sekitar. Bukti yang paling segar tentang dampak investasi bagi kerusakan lingkungan adalah meletusnya sumur lumpur Lapindo yang sangat menyengsarakan masyarakat Sidoarjo. Kesengsaraan rakyat Sidoarjo saat ini adalah bentuk kecerobohan investasi. Padahal secara ekonomi barangkali Lapindo belum mampu menyumbangkan peningkatan perekonomian yang signifikan bagi masyarakat Sidoarjo.

Bali sebagai sebuah kepulauan yang sangat kecil, ketika terjadi kesalahan bentuk investasi, maka tidak mustahil kasus Lapindo akan terjadi pada Bali. Sehingga Bali hanyalah dongeng di mas datang. Untuk menghentikan mimpi buruk tersebut, maka pola investasi bagi Bali harus digeser dari investasi eksploitasi fisik (baca alam) kepada investasi jasa yang berorientasi kerakyatan.

Sampai saat ini Bali masih menyandarkan ekonominya pada dua bidang besar, yakni pertanian dan pariwisata. Sehingga focus penanaman investasi, hendaknya diarahkan secara serius pada dua bidang ini. Pada bidang pertanian, yang meliputi pertanian tanah basah, dan perkebunan. Investasi pada wilayah pertanian tanah basah diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekologi Bali sebagai sebuah kepulauan.  Penjagaan daerah Bali dari polusi udara dapat diatasi dari terbentangnya sawah-sawah ditengah perkotaan. Sehingga eksistensi tanah persawahan basah menjadi penting ketika difungsikan sekaligus pada dua hal yakni ekonomi dan kepentingan lingkungan. Pemerintah dan swasta hendaknya memberikan dukungan yang positif pada usaha permodalan, pemasaran dan pengolahan pasca panen bagi usaha pertanian. Di wilayah ini sepertinya bagi daerah Bali terabaikan karena dipandang tidak memberikan keuntungan financial yang berarti bagi PAD pemerintah daerah, atau tidak mampu memberikan take on pay yang cepat bagi investasi swasta. Kedepan pemerintah daerah harus mengalokasikan anggaran bagi keberlasungan dunia pertanian terutama tanah basah.

Sektor perkebunan juga melibatkan banyak masyarakat Bali sebagai tumpuan hidupnya. Bahkan ketika sumber mata air semakin kecil, banyak daerah pertanian basah beralih fungsi ke perkebunan. Namun para petani selalu mengalami kerugian dan justru ketika panen raya tiba. Kerugian lebih disebabkan karena permainan harga dari tengkulak. Hampir tidak ada peran pemerintah dalam hal ini. Para petani seperti anak tiri yang terlantar, tak pernah mendapat perhatian dan penanganan dari pemerintah. Pemerintah daerah dan Swasta kebanyakan hanya tebar pesona pada saat berkepentingan. Dengan demikian investasi pengelolaan pasca panen sangat mendesak untuk dilakukan guna  menghindari kebangkrutan petani.

Pada dunia pariwisata, Bali sebetulnya merupakan pulau yang komplit akan potensi tourism mulai dari pesona alam, budaya ritual, sampai dengan karya seni dan kerajinan. Penjagaan akan pesona alam, Bali hanya memerlukan konsistensi pemeliharaan, bukan pada perombakan dan pencitraan baru. Sehingga investasi lebih diarahkan pada subsidi bagi kelompok-kelompok penjaga kelestarian tersebut di atas. Investasi pada pembanguan fisik justru akan membuat tata ruang Bali semakin semrawut. Seperti pembangunan restauran-restauran di sepanjang jalan penelokan, membuat pesona penelokan kian kumuh dan semraut. Banyak obyek wisata di Bali yang kian komersiil sehingga taksu kian menjauh.

Budaya ritual masyarakat Bali ternyata merupakan magnet yang terbesar datangnya tamu asing ke Bali. Pelaksaan ritual ini, sangat jauh dari hasil pariwisata. Bahkan dibilang dunia pariwisata tidak pernah menoleh dan berbagi pada sektor ini. Memang ritual masyarakat Bali telah, sedang dan akan terjadi tanpa pernah ambil pusing dengan glamornya dunia pariwisata. Tapi setidaknya sector ini mendapat perhatian  dari dunia Pariwisata dalam bentuk yang sewajarnya, tanpa menodai ketulusan sang pelaksana ritual. Karena pada aktifitasnya upacara ritual adalah tontonan pariwisata masal yang dilakukan oleh seluruh masyarakat. Perhatian pada pelaksanaan ritual ini juga berarti investasi yang bernuasa kerakyatan.

Karya seni dan kerajinan belakangan tidak lagi menjadi pilihan hidup yang menjanjikan. Penikmat seni dan kerajinan kian hari kian menjepit para seniman dan pengerajin. Penikmat seni dan kerajinan mulai menggeser diri menjadi calo dan tengkulak barang seni dan kerajinan. Sehingga seniman dan pengrajin kian terhimpit oleh kebutuhan antara hidup dan mati, antara makan dan tidak makan. Ketika kuat dan teguh akan idealisme berkesenian maka pilihan tidak makan menjadi jawaban. Dunia kerajinan lebih parah lagi, hampir para pengrajin hanyalah pekerja rodi untuk sesuap nasi.

Melihat permasalahan itu maka bentuk investasi bagi Bali pada dunia pariwisata, adalah investasi yang menyentuh problema masyarakat secara umum. Dunia pariwisata memiliki dampak yang demikian besar bagi perekonomian Bali, maka bentuk investasi untuk pariwisata yang bernuansa kerakyatan adalah ; pertama, investasi pada upaya pelestarian bagi obyek wisata yang sudah ada. Upaya realnya adalah memantapkan manajemen pengelolaan obyek wisata sehingga kelestarian alamnya menjadi prioritas terpenting. Obyek wisata tidak sepantasnya menjadi sapi perahan untuk peningkatan PAD, sehingga perhatian terhadap pelestarian alam obyek tersebut terpinggirkan. Sebuah obyek wisata hendaknya mampu menyusui diri sendiri, baik untuk pelestarian alam dan lingkungan maupun operasional manajemen. Dan bahkan nantinya obyek wisata mampu menjadi badan usaha yang professional, mampu mensejahterakan masyarakat sekitar dan daerah.

Kedua, investasi pada budaya ritual, bagi pendulang dolarnya pariwisata hendaknya memiliki panggilan jiwa untuk ikut mendukung pelestarian dan penjagaan kesucian tempat-tempat diberlangsungkannya upacara ritual ini. Malah yang sering terjadi adalah usaha pariwisata mengganggu pelaksanaan ritual tersebut. Contoh nyata adalah kengototan investor membangun fasilitas pariwisata di wilayah tempat-tempat dilangsungkannya upacara ritual, atas alasan tempatnya strategis. Sehingga yang ada pariwisata malah menodai kekhusukan pelaksanaan ritual keagamaan. Ke depan hal ini harus ditolak.

Ketiga, investasi bagi peningkatan produktifitas hasil seni dan kerajinan sangat urgen untuk dilakukan. Menimbang kian hari para penggelut seni baik seni rupa, kriya mapun tari dan tabuh kian meningkat. Sehingga pembentukan organisasi-organisasi seni maupun even-even berkesenian sangat penting untuk dilakukan. Untuk bidang kerajinan diperlukan promosi dan pemasaran yang lebih gencar lagi untuk meningkatkan usaha kerajinan. Promosi barang kerajinan Bali sangat minim. Kebanyakan masyarakat dan bahkan pengusaha hanya berani meng-acung_kan barangnya didaerah sendiri. Belum banyak pengusaha yang berinvestasi untuk membuat stand penjualan di luar negeri. Malah kesempatan itu justru dipergunakan oleh orang asing sendiri. Sehingga harga menjadi keputusan mereka, dan pengerajin kian terhimpit. Lamban tapi pasti kita bukanlah “penjajah hati sang penikmat seni”, tetapi menjadi budak-budak seni. Bidang marketing hasil seni dan kerajinan Bali hendaknya ditingkatkan hingga ke luar negeri sebagai pancingan orang asing datang ke Bali.

Investasi-investasi yang dilakukan dengan  berbasis kerakyatan akan memberikan dampak langsung bagi perkembangan hidup masyarakat itu sendiri. Dengan berkembangnya masyarakat mulai dari ekonominya, maka akan terbangun dan tertempa kemampuan sumber daya masyarakat. Ketika itu terjadi, maka tidak mustahil kesejahteraan bukanlah mimpi kosong yang diawang-awang. Disamping itu lestarinya kebudayaan leluhur dan terjaganya kelestarian alam, menjadi indikator yang komplit bagi kemajuan daerah Bali. Semoga!!

Studi Evaluasi Pengembangan Budaya Kriya Melalui Program Pengembangan Diri Berbasis Seni Kriya pada SMP Negeri 1 Susut-Bangli

10 Jan

ABSTRAK

Kata Kunci : Studi Evaluasi, Efektivitas, Program Pengembangan Diri Berbasis Seni Kriya, Pengembangan Budaya Kriya

Penelitian ini bertujuan 1) mengungkap latar belakang pengembangan budaya kriya, 2) mengungkap proses pengembangan budaya kriya, 3) menganalisis efektivitas program pengembangan diri berbasis seni kriya, 4) mengungkap kendala-kendala dalam implementasi program dan alternatif pemecahannya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang digunakan untuk mengungkap latar belakang pengembangan budaya kriya serta proses pengembangannya dan pendekatan kuantitatif dengan model CIPP untuk mengungkap efektivitas program. Penelitian ini melibatkan 9 informan dan 228 responden.

Dari penelitian ini ditemukan. 1) Latar belakang pengembangan budaya kriya terdiri atas latar belakang historis, filosofis, yuridis, sosiologis,  geografis,  dan  futuristik, 2) Proses pengembangan budaya kriya terjadi melalui tiga bentuk budaya. 3) Hasil evaluasi program dengan model CIPP diperoleh hasil sangat efektif. 4) Terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan program.

ABSTRAK

Key words : Evaluation study, Effectiveness, Self Development Based Artistic Skill Program, Skill Culture Development

The aims of this research are to : 1) depict the background of skill culture development, 2) depict the process of skill culture development, 3) analyse the effectiveness of self development , and 4) depict the abstacles in implementation of self development based and their solution.

This research uses qualitative approach to answer the background of self development based skill culture and its development. The quntitative approach with CIPP model of evaluation program, is used to depict the effectiveness of self development program. This research involve 9 informant and 228 respondent.

Researcher found that : 1) the context of skill culture development consists of historical, philosophical, yuridical, sosiological, geographical and futurity background; 2) the process of skill occurs by means of 3 culture forms, 3) self development based artistic skill program affter evaluated by CIPP model of program evaluation is very effective; 4) There are some abstacles in implementing self development based artistic skill program.

1. Pendahuluan

Dalam rangka desentralisasi pendidikan dan menyikapi fenomena rendahnya mutu pendidikan khususnya kemampuan psikomotorik siswa, maka dituntut adanya pendidikan yang mampu  merangsang tumbuhnya keterampilan belajar. Tujuan dari keterampilan belajar ialah dimilikinya kemampuan memecahkan masalah secara bertanggungjawab. Untuk mencapai tujuan tersebut harus didahului dengan kemampuan mengenali hakikat diri, potensi dan bakat-bakat terbaik serta berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensi hingga menjadi diri sendiri seutuhnya (Anwar, 2004:9).

Menindaklanjuti semangat reformasi pendidikan tersebut, maka menteri pendidikan nasional telah mengeluarkan berbagai peraturan menteri (Permen), salah satunya tentang kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP memberi peluang bagi kepala sekolah, guru dan peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah. Dengan demikian, sekolah diharapkan dapat melakukan proses pembelajaran yang efektif, dapat mencapai tujuan yang diaharapkan. Hal tersebut diperlukan terutama untuk menjamin mutu secara menyeluruh (total quality), dan menciptakan proses perbaikan yang berkesinambungan (continues improvement).

Muatan KTSP meliputi mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Pengembangan diri di sekolah merupakan salah satu variabel  penting dari struktur KTSP yang diarahkan guna terbentuknya keyakinan, sikap, perasaan dan cita-cita para peserta didik yang realistis, sehingga pada gilirannya dapat mengantarkan peserta didik untuk memiliki kepribadian yang sehat dan utuh. Pengembangan diri harus memperhatikan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik (BSNP,2006:9).

Dalam rangka pelaksanaan Permen Diknas tersebut, SMP Negeri 1 Susut telah menyusun kurikulum sekolah. Dalam kurikulum SMP Negeri 1 Susut disebutkan visinya adalah  “beriman, berilmu, berbudaya kriya, dalam kemandirian”  dengan salah satu indikatornya memiliki karakter budaya yang berbasiskan keterampilan seni kriya untuk hidup mandiri.

Dari visi tersebut dirumuskan misi SMP Negeri 1 Susut, salah satunya adalah pengembangan keterampilan seni kriya dalam membentuk karakter budaya untuk hidup mandiri. Pengembangan keterampilan seni kriya yang dimaksud di atas dilaksanakan melalui program pengembangan diri berbasis seni kriya. Adapun program pengembangan diri tersebut adalah 1) seni kriya anyaman bambu, 2) seni kriya ngerot, 3) seni kriya logam, 4) seni kriya kontemporer, 5) seni rupa/lukis, 6) seni menjahit, dan 7) uperengga.

Pengungkapan dan penelusuran latar belakang dirumuskannya visi sekolah “berbudaya kriya dalam kemandirian” sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam. Begitu pula penggambaran apa adanya dari aktivitas seni kriya siswa menjadi dasar penyimpulan keterjadian pengembangan budaya kriya.

Pengembangan diri berbasis seni kriya sebagai sebuah program perlu mendapat penilaian secara holistik. Dari penilaian tersebut maka akan terungkap sejauhmana efektifitas program tersebut. Evaluasi program merupakan evaluasi dalam rangka pembuatan pertimbangan menurut suatu perangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemetaan latar, masukan, proses, dan hasil dari program ini sangat penting dilakukan untuk memutuskan sejauhmana efektivitas program tersebut. Oleh karenanya, maka model evaluasi yang dipakai mengevaluasi program pengembangan diri berbasis seni kriya dalam penelitian ini adalah model CIPP (Context, Input Process, Product) gagasan dari  Stufflebean.

Adapun tujuan dari penelitian ini sangat erat kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas, yakni sebagai berikut. 1) Untuk mengungkap latar belakang pengembangan budaya kriya 2) Untuk mengungkap proses pengembangan budaya kriya. 3) Untuk menganalisis efektivitas program pengembangan diri berbasis seni kriya ditinjau dari variabel  latar (context), masukan (input), proses (process), dan hasil (product). 4) Untuk mengungkap kendala-kendala program pengembangan diri dan alternatif pemecahannya.

Manfaat dari penelitian ini secara akademis untuk menambah khasanah keilmuan terutama pengembangan kurikulum jalur pengembangan diri. Secara praktis diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, tenaga pendidik,  SMP Negeri 1 Susut, orang tua, sekolah lain, dunia usaha, dan dinas pendidikan dalam mengenali program pengembangan diri di SMP negeri 1 Susut.

Dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan evaluasi adalah membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang ada. Efektivitas adalah kesesuaian antara tujuan yang ingin dicapai dengan periode waktu tertentu yang telah ditetapkan dalam perencanaan dengan memenuhi kriteria-kriteria yang ada. Evaluasi program adalah sebuah upaya untuk mengetahui efektivitas program yang sedang dan sudah dilaksanakan untuk menyediakan informasi kepada pengambil keputusan, apakah program tersebut dapat dilanjutkan atau diperbaiki bahkan dihentikan.

Adapun aspek-aspek yang akan dilibatkan dalam evaluasi program menggunakan model evaluasi CIPP meliputi hal sebagai berikut. 1) Evaluasi terhadap latar (context evaluation), difokuskan pada  latar geografis sekolah, partisipasi masyarakat, kebijakan pemerintah, status sosial dan ekonomi masyarakat, visi sekolah, misi sekolah, dan tujuan sekolah. 2) Evaluasi terhadap masukan (Input evaluation), difokuskan pada aspek visi pengembangan diri, misi pengembangan diri, tujuan pengembangan diri, pemetaan standar kompetensi dan kompetensi dasar program pengembangan diri berbasis seni kriya, silabus program pengembangan diri berbasis seni kriya, rencana pelaksanaan pembelajaran program pengembangan diri berbasis seni kriya, sistem evaluasi, guru, siswa, dan sarana prasaran program pengembangan diri berbasis seni kriya. 3) Evaluasi terhadap proses (process evaluation), difokuskan pada aspek proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses pelaksanaan pembelajaran program pengembangan diri berbasis seni kriya, proses kerjasama dan partisipasi, proses pengelolaan keuangan, dan proses evaluasi. 4) Evaluasi terhadap hasil (product), pada aspek karya siswa, penghasilan atau nilai ekonomi kelompok pengembangan diri, kualitas budaya kriya, dan prestasi non akademik.

Pengembangan budaya kriya terjadi melalui proses penemuan dan  invensi, difusi, inovasi, fokus, dan visi masa depan dalam tiga wujud budaya. Adapun ketiga wujud tersebut  antara lain ; budaya sebagai wujud kompleksitas ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan ; kebudayaan sebagai  suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat ; dan budaya sebagai  hasil-hasil seni kriya sebagai bentuk fisik dari kebudayaan.

2. Metodologi  Penelitian

Dilihat dari pendekatannya, penelitian ini menggunakan pendekatan empirik (ex- post facto). Penelitian ini menggunakan dua jenis penelitian, yakni penelitian  kualitatif dan kuantitatif. Untuk menjawab permasalahan yang pertama dan kedua, yakni tentang latar belakang pengembangan budaya kriya dan proses pengembangan budaya kriya melalui program pengembangan diri berbasis seni kriya, digunakan penelitian secara kualitatif.         Untuk membahas pelaksanaan program pengembangan diri digunakan penelitian evaluatif kuantitatif, yang ditinjau dari empat variabel yakni : latar (context), masukan (input), proses (process), dan hasil (product). Hasil evaluasi program pengembangan diri yang diperoleh akan dijadikan dasar untuk mencari kendala-kendala pelaksanaan program tersebut. Penemuan tentang berbagai kendala yang dihadapi dalam program pengembangan diri berbasis seni kriya lebih lanjut akan dicarikan alternatif pemecahannya. Pemecahan yang ditawarkan oleh peneliti didasarkan dari analisis kualitatif yang dihubungkan dengan teori-teori yang sudah ada.

Dalam penelitian ini subjek penelitan ditentukan berdasarkan tujuan penelitian (purposive sampling), yakni warga sekolah yang terkait dengan pelaksanaan pengembangan diri. Dalam mengumpulkan data tentang latar belakang pengembangan budaya kriya melibatkan tiga orang informan. Terdiri dari kepala sekolah, ketua komite, dan kaur kurikulum. Sedangkan dalam mengumpulkan data proses pengembangan budaya kriya melibatkan enam informan, yang terdiri dari tiga orang guru, dan tiga orang siswa. Untuk studi evaluasi yang bersumber dari siswa, subjek penelitian dipilih dengan teknik proportional random sampling. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik wawancara, penyebaran kuesioner, observasi, dan dokumentasi.

Untuk data latar belakang dan proses pengembangan budaya kriya yang diperoleh dengan wawancara mendalam dilakukan pemeriksaan keabsahan data sebelum dianalisis. Dalam menjaga derajat kepercayaan terhadap data yang diperoleh digunakan teknik triangulasi. Sesudah data dinyatakan sahih, maka dilanjutkan dengan analisis. Data tersebut dianalisis menggunakan teknik deskriptif.

Data efektivitas program pengembangan diri berbasis seni kriya dan data budaya kriya siswa dianalisis dengan menggunakan skala Likert. Variabel-variabel  yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Akhirnya indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat instrumen yang berupa pertanyaan atau pertanyaan yang perlu dijawab oleh responden. Karakteristik data yang diperoleh berbeda-beda, maka sebelum dianalisis semua data ditransformasikan ke dalam T – skor.

Untuk menjawab permasalahan penelitian ini, maka data dari masing-masing variabel yang telah diolah kemudian dianalisis secara deskriptif. Untuk menemukan tingkat efektivitas implementasi program pengembangan diri dilakukan analisis terhadap variabel latar, masukan, proses, dan hasil melalui analisis kuadran Glickman. Kualitas skor pada masing-masing variabel adalah positif dan negatif yang dihitung menggunakan T – skor. Jika T ≥ 50 adalah positif atau tinggi ( + ), dan T < 50 adalah negatif atau rendah ( – ).

Untuk mengetahui hasil dari masing-masing variabel, dihitung dengan menjumlahkan skor positif ( + ) dan skor negatif ( – ). Jika jumlah skor positifnya lebih banyak atau sama dengan skor negatifnya berarti hasilnya positif ( + ). Jika jumlah skor positifnya lebih kecil daripada skor negatifnya maka hasilnya adalah negatif ( – ) atau :   Σ+ ≥ Σ- = + (positif), bila Σ+ < Σ- = – (negatif).

Analisis kuadran yang digunakan dapat menggambarkan beberapa kedudukan efektivitas implementasi program pengembangan diri, seperti kuadran I terdiri atas unsur latar yang tinggi, masukan yang tinggi, proses yang tinggi, dan hasil yang tinggi atau ++++, keadaan yang tergolong sangat efektif. Kuadran II terdiri atas unsur latar, masukan, proses dan hasil yang tinggi, tinggi, tinggi, rendah (+++-),  tinggi, tinggi, rendah, tinggi (++-+), tinggi, rendah, tinggi, tinggi (+-++), rendah, tinggi, tinggi, tinggi (-+++), keadaan unsur – unsur ini tergolong cukup efektif. Kuadran III terdiri atas unsur latar, masukan, proses dan hasil yang tinggi, tinggi, rendah, rendah (++–), tinggi, rendah, tinggi, rendah (+-+-), rendah, tinggi, rendah, tinggi (-+-+), rendah, rendah, tinggi, tinggi (–++), tinggi, rendah, rendah, tinggi (+–+), rendah, tinggi, tinggi, rendah, (-++-), tinggi, rendah, rendah, rendah (+—), rendah, rendah, tinggi, rendah (–+-), rendah, tinggi, rendah, rendah (-+–), rendah, rendah, rendah, tinggi (—+), keadaan unsur ini tergolong kurang efektif. Kuadran IV terdiri atas unsur latar, masukan, proses dan hasil yang kesemuanya rendah (—-), keadaan ini tergolong sangat tidak efektif.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1) Latar Belakang Pengembangan Budaya Kriya

Latar belakang pengembangan budaya kriya dilandasi oleh enam landasan, yakni landasan filosofis, yuridis, historis, sosiologis, geografis, dan futuristik. Dari analisis, kalau digambarkan secara diagram, maka dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1  Bagan Latar Belakang Pengembanagn Budaya kriya

Keenam landasan tersebut, merupakan latar belakang yang sangat komprehensif dari perumusan sebuah visi sekolah yang dikaitkan dengan sebuah program, yakni program pengembangan diri. Perumusan budaya kriya dalam kemadirian sebagai muara dari segala aktivitas program pengembangan diri merupakan sebuah strategi yang substansional, kontektual, bernilai guna, dan visioner.

2) Proses Pengembangan Budaya kriya

Proses pengembangan budaya, kalau dituangkan melalui bagan, dapat dilihat seperti pada gambar 2 berikut.

Gambar 2 Proses Pengembangan Budaya Kriya

Budaya-budaya kriya yang telah dimunculkan akibat proses pelaksanaan pengembangan diri berbasis seni kriya dalam bentuk ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan adalah telah terbangunnya pemunculan ide seni kriya. Keberanian memunculkan ide adalah bentuk kepedulian dan tanggungjawab terhadap seni kriya yang digeluti. Apalagi dengan munculnya ide-ide tentang seni kriya, muncul niat lanjutan yakni berusaha menggabung beberapa ide menjadi formulasi ide yang inovatif.  Bahkan para peserta yang diperkuat oleh pendapat para pembina yang mengatakan bahwa ide-ide seni kriya yang ia munculkan diyakini memiliki nilai jual dimasa depan. Keyakinan seperti ini sangat penting dalam rangka mempertegas pilihan dan usaha untuk mengembangkan terus seni kriya yang dipilihnya.

Pemunculan budaya kriya dalam bentuk aktivitas berkarya dari proses pengembangan diri berbasis seni kriya berwujud pada penemuan teknik pengerjaan. Teknik pengerjaan yang muncul terjadi dari duplikasi pada teknik pembina, maupun duplikasi atau adaptasi dari beberapa teknik yang diperoleh dari pembina maupun dari peserta lainnya. Karena tidak jarang peserta sudah memiliki teknik tersendiri yang ia peroleh dari masyarakatnya sendiri. Disamping munculnya variasi gaya dan teknik, juga muncul budaya-budaya lainnya, seperti : rasa tanggungjawab, ketekunan, disiplin, ketaatan terhadap aturan, kecermatan, dan budaya lainnya.

Proses pengembangan budaya dalam bentuknya yang ketiga yakni budaya sebagai kompleksitas hasil karya manusia telah dilakukan oleh para peserta pengembangan diri. Hasil-hasil pengembangan budaya yang telah dilakukan, baik dalam bentuk ide, dan gagasan, dalam bentuk aktivitas, dan dalam bentuk hasil karya merupakan kulminasi dari proses yang telah dilakukan oleh para peserta dan pembina dalam melakoni pengembangan diri berbasis seni kriya.

3) Efektivitas Program Pengembangan Diri Berbasis Seni Kriya

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, masing-masing variabel  program pengembangan diri berbasis seni kriya, maka dapat direkapitulasi nilai masing-masing variabel dan nilai secara keseluruhan dari program pengembangan diri tersebut adalah seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 1 Hasil Analisis Data Evaluasi Program Pengembangan  Diri Berbasis Seni Kriya

No Variabel Indikator Nilai Indikator Nilai Variabel

 

Latar (context) 

 

1.  Latar Geografis 

2.  Partisipasi masyarakat

3.  Kebijakan pemerintah

4.  Status   sosial dan ekonomi masyarakat

5.  Visi Sekolah

6.  Misi Sekolah

7.  Tujuan sekolah

-

+

-

+

+

+

+

 

Masukan 

 

1.   Visi program pengembangan diri 

2.   Misi program pengembangan diri

3.   Tujuan program pengembangan diri

4.   Pemetaan SK/KD  program pengembangan diri

5.   Silabus program pengembangan diri

6.   Rencana pelaksanaan program pengembangan diri

7.   Sistem evaluasi

8.   Guru

9.   Siswa

10.  Sarana dan Prasarana Pengembangan diri

-

+

+

+

+

+

+

+

-

 

+

 

Proses (process) 

 

1.  Proses pengambilan keputusan 

2.  Proses pengelolaan kelembagaan

3.  Proses pengelolaan program

4.  Proses pembelajaran

5.  Proses kerjasama dan partisipasi

6.  Proses pengelolaan keuangan

7.  Proses evaluasi

+

-

+

-

+

+

+

 

Hasil 

 

1.  Karya siswa 

2.  Penghasilan atau nilai ekonomi

3.  Prestasi non akademik

4.  Kualitas budaya kriya siswa

-

-

+

+
Jumlah Positif 20 4
Jumlah Negatif 8 0
Simpulan ++++ 

(Sangat Efektif)

Hasil analisis data seperti yang tersaji pada tabel 1 diperoleh keempat variabel  yakni variabel  latar, masukan, proses, dan hasil bernilai positif. Kalau dianalisis menggunakan kuadran Gliksman, maka hasilnya berada pada kuadran I, yakni tergolong sangat efektif.

Variabel  latar (context) bernilai positif seperti yang terurai di atas, karena dari tujuh indikator terdapat lima indikator yang bernilai positif. Variabel  masukan memiliki delapan indikator yang bernilai positif dari 10 indikator yang ada. Variabel  proses yang terdiri dari tujuh indikator, memiliki lima indikator yang bernilai positif. Untuk variabel  hasil memiliki dua indikator yang bernilai positif dari empat indikator yang ada. Dari 28 indikator secara keseluruhan terdapat 20 indikator yang bernilai positif dan 8 yang bernilai negatif

Dari bagan tersebut di atas, kalau dihubungkan dengan kerangka berpikir, maka program tersebut layak untuk dilanjutkan  proses pelaksanaannya dengan berbagai catatan-catatan karena hasil evaluasi terhadap program pengembangan diri berbasisi seni kriya bernilai ++++ atau berkualifikasi sangat efektif. Indikator-indikator yang bernilai positif perlu dilanjutkan dan disempurnakan pada tingkat implementasi, sedangkan indikator-indikator yang bernilai negatif akan dikembalikan pada proses perencanaan untuk digodok kembali menjadi perencanaan yang matang, dilanjutkan dengan proses pelaksanaan, dan evaluasi.

Kalau dirunut berdasarkan kerangka teori di atas, maka ada keseiramaan temuan dari penelitian ini. Dari pengungkapan latar belakang pengembangan budaya kriya yang dilandasi dengan enam landasan secara komprehensif dan memiliki empat nilai yang sangat bermakna. Pengungkapan proses pengembangan budaya yang menemukan telah terjadi pengembangan budaya kriya baik dalam  bentuk ide atau gagasan, aktivitas, maupun hasil karya siswa. Evaluasi terhadap program ditemukan sangat efektif, serta ditemukan  tingginya budaya kriya siswa.

Seluruh temuan penelitian tersebut memperlihatkan konsistensi hasil dari penyebab sampai dengan akibat dari program tersebut. Namun sebagai sebuah program, apalagi program yang baru tiga semester berjalan masih sangat jauh dari sempurna, dan ditemukan pula beberapa nilai negatif dari beberapa indikator merupakan makna reflektif bagi kesempurnaan program dan upaya pencapaian sasaran yang telah digariskan. Hal-hal yang bernilai negatif dan hal-hal yang belum tercapai mesti dimaknai secara kritis untuk dicari jawabannya sebagai altenatif pemecahan masalah kedepan.

4) Kendala dan Alternatif Pemecahan Masalah Pengembangan Diri Berbasis Seni Kriya

Dari 28 indikator secara keseluruhan terdapat delapan indikator yang masih bernilai negatif. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pengembangan diri berbasis seni kriya adalah : rendahnya partisipasi masyarakat; status sosial ekonomi masyarakat; minimnya pengetahuan stake holders tentang misi program pengembangan diri;  keberadaan sarana dan prasarana pengembangan diri berbasis seni kriya proses pengelolaan program; proses kerjasama dan partisipasi; penghasilan atau nilai ekonomi; prestasi non akademik. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kendala-kendala tersebut adalah : penggalian dukungan masyarakat; perbaikan cara pandang masyarakat terhadap pengembangan diri berbasis seni kriya; pensosialisasian terhadap peserta program pengembangan diri dan warga sekolah lainnya mengenai misi masing-masing program pengembangan diri khsusnya seni kriya; pengaturan pelaksanaan program sehingga peralatan, bahan, dan ruang belajar yang ada dapat dimanfaatkan seefektif dan seefesien mungkin; perencanaan anggaran sekolah untuk mengadakan peralatan dan bahan secara bertahap terutama bagi peralatan dan bahan yang dapat dijangkau; perlu diadakan alat, bahan, dan ruang belajar secara bertahap melalui penggalian dukungan dana dari orang tua, pemerintah daerah, pemerintah propinsi, dan pemerintah pusat; revitalisasi organisasi; memasarkan hasil produksi melalui kerjasama dengan dunia usaha, langsung ke pasaran, mengatur jenis produksi, dan melakukan administrasi keuangan sebagaimana dunia usaha dalam melakukan pembukuan perusahaannya; penuntutan terhadap pemerintah daerah dan nasional untuk memkompetisikan dan memperhatikan terus bidang seni kriya.

4. Penutup

Dari hasil penelitian di atas, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut. 1) Latar belakang pengembangan budaya kriya melalui program pengembangan diri berbasis seni kriya terdiri dari latar belakang historis, filosofis, yuridis, sosiologis, geografis, futuristik. 2) Proses pengembangan budaya kriya terjadi melalui tiga bentuk budaya yakni pada bentuk ide, gagasan, nilai, dan norma seni kriya, pada bentuk aktivitas seni kriya, dan dalam bentuk karya seni kriya siswa. 3) Hasil evaluasi terhadap program pengembangan diri berbasis seni kriya dengan menggunakan evaluasi program model CIPP diperoleh hasil sangat efektif. 4) Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pengembangan diri berbasis seni kriya adalah : rendahnya partisipasi masyarakat; status sosial ekonomi masyarakat; minimnya pengetahuan stake holders tentang misi program;  keberadaan sarana dan prasarana; proses pengelolaan program; proses kerjasama dan partisipasi; penghasilan atau nilai ekonomi; prestasi non akademik. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kendala-kendala tersebut adalah : penggalian dukungan masyarakat; perbaikan cara pandang masyarakat terhadap pengembangan diri berbasis seni kriya; pensosialisasian;  pengaturan sarana; revitalisasi organisasi; memasarkan hasil produksi melalui kerjasama; penuntutan terhadap pemerintah daerah dan pusat untuk memkompetisikan dan memperhatikan terus bidang seni kriya.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka direkomendasikan secara akademis kepada peneliti lain untuk meneliti perbedaan budaya kriya siswa ditinjau dari lama waktu dan  jenis program pengembangan diri serta variabel yang mempengaruhinya. Secara praktis direkomendasikan kepada siswa SMP Negeri 1 Susut agar menekuni  seni kriya yang telah dipilih, kepada tenaga pendidik agar terus-menerus melakukan penyusunan materi dan peningkatan kompetensi tentang seni kriya dan perbaikan manajemen, serta peningkatan enterpreunershiff, kepada  SMP Negeri 1 Susut secara institusional agar menyempurnakan terus perencanaan, koordinasi antar komponen, pelaksanaan monitoring dan evaluasi, kepada pengelola pengembangan diri yang lain dan mata pelajaran agar mengikuti pelaksanaan program pengembangan diri berbasis seni kriya, kepada komite sekolah dan dunia usaha agar mendukung program pengembangan diri,  kepada sekolah lain agar melakukan kajian atas program pengembangan diri yang berbasis seni kriya di SMP Negeri 1 Susut.

Daftar Pustaka

Anwar, H. Moch. Idochi. 2003. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Anwar. 2004. Pendidikan Kecakapan Hidup. Bandung : Alfabeta

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safrudin Abdul Jabar. 2007. Evaluasi Program Pendidikkan, Pedoman Teoritisi Praktis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

BSNP. 2006. Panduan Kurikuluum Tingkat Satuan Pendidikan.

Chatab. 2007. Profil Budaya Organisasi. Bandung : Alfabeta

Depdiknas. 2005. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009. Jakarta : Depdiknas

……….., 2006. Model Pengembangan Diri, Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional, Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional

Fattah. 2004. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Koentjaraningrat. 2004. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

…………., 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Kountur, Ronny. 2005.Statistik Praktis. Jakarta : PPM

Marhaeni, A.A.I.N. 2007. Evaluasi Program Pendidikan. Singaraja : Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha

Ndraha, Taliziduhu. 2002. Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta.

Sugiyono. 2002. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : CV. Alfabeta

STKIP Singaraja. 1996. Studi Evaluatif Tentang Penyelenggaraan Program Pengalaman Lapangan (PPL) dan Proses Belajar Mengajar (PBM) di STKIP Singaraja. Singaraja : STKIP Singaraja

Stufflebeam, David L and Shinkfield, Anthony J. 1986. Systematic Evaluation. USA: Kluwer-Nijhoff Publishing

Sudijono, Anas. 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Sudjono, ED. 1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grasindo Persada

Tayibnafis, Farida Yusuf. 2000. Evaluasi Program. Jakarta : Rineka Cipta

Tilaar, H. A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang : Indonesia Tera.

……….., 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : PT Rineka Cipta

Toekio M, Soegeng. 2007. Strategi Pengembangan Pendidikan Kriya, Makalah, disampaikan dalam Seminar Kriya Keramik Festival Kesenian Indonesia V – ISI Denpasar

Yoyon Suryono. 2008. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta :

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.